inisial mereka…

Hari ahad pekan ini, kembali agenda ke agenda rutinan taklim  untuk adik-adik tingkat sekolah dan kampus. Agenda taklim ini insyaallah akan dimulai pukul 10.00 nanti, namun seperti biasa ane “kepagian” sampai di lokasi pukul 08.00. Hampir selalu demikian yang ane jalani dalam tiap agenda dakwah di kota ini, sebab bila memang sebelumnya ane tak ada agenda, maka ane akan berusaha untuk berangkat lebih awal agar tak terlambat. Bila dipikir kembali, hal ini sudah ane jalani kurang lebih 4 tahun lamanya. Hal ini bagi ane pribadi bukanlah masalah, sebab banyak hal yang bisa ane lakukan untuk mengisi waktu menunggu ini. Misalnya dengan tilawatul qur’an, morojaah hafalan, baca buku, makan, dan banyak hal lagi. Pada saaat ini ane lebih memilih menulis tulisan ini.

Sepanjang perjalanan dari tempat kosan ane hingga kota ini, selalu ada kisah dibalik tiap-tiap interaksi perjalanan yang ane lakukan. Kisah-kisah yang ane dapatkan senantiasa berbeda, baik bila melauli jalur perjalan yang senantiasa sama, lebih-lebih ketika melewati jalur perjalanan yang berbeda. Kali ini ane perhatikan sepanjang jalan ramai sekali dengan baliho, stiker, bendera, poster, dengan 1 tema yang sama yaitu berlomba-lomba untuk menarik suara masyarakat dalam pemilu legislatif. Hal ini bukanlah hal yang aneh menurut ane, sebab memang beginilah konsekuensi dari sistem demokrasi pancasila yang akan berhajat besar pada tahun ini. Pesta demokrasi yang memang mesti dijalani dengan semangat saling berlomba dalam kebaikan untuk membangun indonesia yang adil-sejahtera. Semarak pesta ini sudah semestinya disambut dengan penuh gegap gempita (seperti pada lagu). Tentunya dengan banyak sekali catatan-catatan dari para pengkeritik politik.

Hal awal yang diperhatikan adalah aspek estetika pemasangan atribut kampanye, yang menjadi pembicaraan yang cukup menarik bagi kita. Tentunya bila diperhatikan perjalanan negri yang baru belajar demokrasi se-usia remaja, hal ini masih dapat dimaklumi dan dimaafkan. Oleh karena itu, lagi-lagi publiklah yang semestinya lebih cerdas dalam menilai aspek kesantunan estetika pemasangan atribut-atribut tersebut. Sebab tidak sedikit dari para calon anggota legislatif yang begitu bersemangat dalam hingar-bingar publikasi atribut kampenye. Namun, bak permata diantara bebatuan kerikil, masih ada para calon anggota legislatif yang tetap pada ideolgisnya. Mereka tetap teguh menjaga izzah (kehormatan) dalam mempublikasikan atribut kampanye dan dengan kesantunan yang membumi. Mulai dari peroses pengadaan, pembagian tugas sesama kader partainya, penentuan tempat yang strategis, pemasangan atribut tanpa merusak, dengan menjaga utuh kesantunan dalam ruang terbuka masyarakat.

Sedikit ane kisahkan perjalanan ane ditempat yang lain, lebih spesifiknya adalah di kota Weiden-Jerman. Pada saat itu bertepatan dengan pemilu raya baik ditingkat provinsi dan nasional (oktober 2013). Satu hal yang sangat jelas berbeda adalah, begitunya rapih tatanan tiap atribut kampanye  para calon pimpinan yang bertarung dalam pemilu di Jerman. Semuanya begitu rapih sepanjang apa yang ane pandang dalam tiap perjalan yang ane tempuh disana. Tentunya hal ini tidak semerta-merta membuat ane gunjang-ganjing dengan yang biasanya terjadi di negri tercinta, sebab banyak hal yang memang belum ane ketahui tentang hal-hal yang berbeda secara perinsip dari pesta akbar demokrasi di Jerman dan di Indonesia. Karena memang apa yang ane saksikan di Jerman hanyalah sepintas lalu saja, namun seperti itulah kenampakannya.

Kembali kepada apa yang terjadi di kota-kota negri ini, dengan memperhatikan secara jelas dari kompetisi jelang pemilu legislatif. Hal-hal yang terlihat sepintas-lalu tidak rapih dan cendrung amburadul ini tidak bisa secara utuh disalahkan. Sebab secara perinsip, masyarakat (dalam hal ini selaku publik demokrasi) berhak tahu siapa saja yang nantinya akan menjadi dewan perwakilan suara mereka. Dengan catatan publik juga penya kewajiban yang derajatnya sama seperti haknya, yakni dalam hal melakukan penilaian yang selektif dan cerdas. Sebab dengan porsi kepahaman yang seimbang antara hak dan kewajiban pada tiap pemegang hak suara ini-lah, demokrasi yang dewasa dan sehat dapat tercipta di negri ini.

Salah satu kriteria utama layaknya para peserta pemilu ini untuk dipilih adalah kecerdasan sistem kampanye yang dilakukan. Yang mesti disadari pertama adalah kesuaian porsi antara pempublikasian dengan pencerdasan kenapa mereka harus dipilih. Mulai dari atribut kampanye hingga kerja tim yang solid dari para kader partainya. Sebab dengan memerhatikan hal inilah, sejatinya publik dapat melihat secara utuh keprofesionalan partai yang akan mereka pilih. Sekaligus dapat menilai kualitas caleg-caleg dari partai tersebut, yang memang dipilih sebagai suatu peroses pengaderan politik utuh, bukan hanya penunjukan pragmatis partai. Sebab memang akan terlihat jelas para caleg yang memiliki peroses panjang dalam membangun masyarakat hingga akhirnya peroses pengaderan dalam partai ditentukan.

Kelayakan partai dan kadernya sungguh kentara sekali terlihat, bila kita mau berhenti sejenak dan berpikir tentang peroses. Bukan produk sepintas lalu berupa atribut kampanye yang kita kritisi, namun yang paling penting adalah peroses detail yang merajutnya secara utuh. Kelayakn ini dapat kita perhatikan dan pikirkan dari gerak silaturahim penuh kesantunan para kader-kader partai tersebut, serta antusiasme positif para simpatisan, hingga sikap para lawan politiknya. Sebab ketulusan peroses panjang para kader partai tersebut daalam membangun masyarakat tidak akan pernah bisa dibohongi.

Kelayakan itu diejahwantahkan dalam kerja-kerja penuh cinta yang mereka lakukan, serta keharmonian kerja tiap kader mereka dalam membangun masyarakat yang tidak pernah turun kualitasnya. Baik dalam masa sebelum pemilu, lebih-lebih ketika masa pemilu ini. Ini bukanlah hal yang mengada-ada, silahkan lihat secara utuh sekeliling dengan kepedulian kita selaku publik yang cerdas dalam menilai kesantunan. Senyum-senyum tulus mereka takkan pernah bisa di-elak-kan sebagai suatu rasa cinta yang tulus dari hati. Kerja-kerja yang mereka lakukan sedari dulu, bukanlah isapan jempol belaka, sebab kita menyaksikan betul peroses itu. Kerharmonian yang mereka bangun dalam kader mereka, simpatisan, dan rival politiknya sungguh sejuk sekali terlihat oleh kita.

Biarlah hegemoni pesta demokrasi ini mendidik kita, jangan sampai kalah dengan gelombang pragmatisme nan tak etis yang membuat kita sesak. Hiduplah dengan menjadi manusia yang memerhatikan manusia sekeliling yang terus berkerja dengan tulus melayani. Lihatlah dengan seksama hasil kerja panjang yang mereka dan partainya beri untuk kita dan negri ini. Adil-lah kita dalam menilai kesejahteraan yang tidak semata-mata dengan prgmatisme politik. Namun, lihatlah sistem kebijakan politik yang telah dibangun, serta hasil-hasil manis yang mulai bisa kita nikmati kini. Memang belum sepenuhnya nilai-nilai kabaikan ini terbangun secara mengakar utuh dalam negri ini. Oleh karena itu, keberlanjutan harus tetap berjalan. Hingga Indonesia yang adil sejahtera dapat bersemi serta bertumbuh menjadi negri yang diidamkan seluruh rakyatnya.

Bantulah mereka agar mereka senantiasa dapat senantiasa membantu kita dan negri ini menjadi negri “yang baldatun, thoyyibatun wa robbun gofuur”

itulah sepintas hal yang ane pikirkan dari interaksi dalam perjalanan aktivitas ahad ini, setidaknya hal-hal penting yang ingin ane bagi sudah ane sampaikan dengan tulus. Semoga kerja-kerja penuh cinta yang kami lakukan dengan harmoni ini, dapat membantu masyarakat sekalian dan negri ini secara utuh. Oleh karena itu, bantulah kami agar kami senantiasa dapat membantu anda dan negri ini.
Salam hangat penuh cinta, dari kami kader Partai Keadilan Sejahtera.

Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani!

Smile

Mahabbah-‘Amal-Tawazun (Cinta-Kerja-Harmoni)

Iklan

akhirnya setela…

akhirnya setelah menduga dari semester-2, ternyata benar dugaan saya tentang definisi “titik”. buku element, karya euklid memang luar biasa!, bukan hanya isapan jempol…
😀

Berhitung itu indah

Asalammualaikum, Salam cendikia!

time math

Pembaca ;>alfainvers yang senantiasa dirahmati Allah.

Kembali disini penulis akan berbagi tahap demi tahap penelitian yang penulis lakukan, kali ini penulis akan memaparkan bahasan pada “bab-1” penelitian penulis, dimana bahasan ini adalah kelanjutan latar belakang pada tulisan sebelumnya. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.

Pembaca yang budiman.

Walau memang dasar penilitian ini ada pada ilmu falak (spherical astronomy), namun secara jelas didalam spherical astrnomy itu kental sekali dengan salah satu cabang matematika. Cabang matematika itu adalah spherical geometry. Hal inilah yang menarik minat penulis, sebab penulis hingga saat ini adalah mahasiswa program studi matematika di Fak. Sains & Teknologi UIN Jakarta. Setelah penulis dalami spherical astronomy dan practical astronomi (ketika PKL di Bosscha-ITB), memang senantiasa memanfaatkan suatu struktur aljabar, (\mathbb{R},\cdot,+) Lapangan dan pemetaan. Yang kedua hal ini terejahwantahkan dalan suatu sistem aritmatika dasar yang mudah dipahami setiap orang. Sehingga penulis merumuskan penelitian awal ini dalam beberapa hal yang sederhana, namun menjadi kunci dalam ilmu hisab (ilmu hitung) yang merupakan bagian dari spherical astronomy.

Pembaca yang lapang hatinya.

Penelitian ini setelah penulis kaji dan pikirkan secara seksama, merumuskan 2 hal yang akan dikaji lebih lanjut. Yang menanyakan tentang, bagaimanakah metode penentuan penanggalan qomariyah dengan kajian matematis berupa pemenfaatan sistem konversi waktu?. Berikutnya pertanyaan kunci dalam penelitian ini, Bagaimana bentuk model konversi waktu penanggalan masehi-hijriah dan hijriah-masehi?. Dengan 2 perumusan sederhana inilah penulis mencoba memaparkan secara sistematis dan logis untuk memahmi ilmu hisab dalam penanggalan hijriah dan masehi.

Pembaca yang cermat tatap matanya.

Dari perumusan masalah yang dipaparkan peneliti, maka dalam penelitian ini fokus bahasan dibatasi dalam kerangka pemodelan matematis konversi waktu penaggalan masehi-hijriah dan hijriah-masehi. Pemodelan matematis ini berdasarkan perhitungan aritmatika dasar yang mudah dipahami oleh siapapun. Sehingga dengan rumusan dan pembatasan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah, memaparkan dan memahami metode penentuan penanggalan qomariyah dengan kajian matematis berupa pemanfaatan sistem konversi waktu. Serta untuk mengetahui bentuk model konversi waktu penanggalan masehi-hijriah dan hijriah-masehi.

Pembaca yang lembut tutur katanya.

Secara umum hasil dari penelitian ini dapat menjadi khazanah integrasi keilmuan yang bermanfaat bagi para akademisi, pemerintah, dan masyarakat luas. Secara khusus, manfaat dan kegunaan penelitian ini bagi pemerintah adalah:

  1. Berkontribusi kepada pemerintah (khususnya Kementrian Agama) dalam rangka membumikan dan membangkitkan rasa cinta penggunaan sistem penanggalan hijriyah (qomariyah) baik dalam penentuan ibadah.
  2. Menambah khasanah hisab urfi yang dipakai dalam kesatuan hisab urfi yang dilakukan pemerintah maupun lembaga hisab terkait.
  3. Sebagai usulan pertimbangan ilmiah untuk memakai sistem penanggalan hijriah dalam aktivitas administrasi sipil sehari-hari.

Untuk para akademisi, penelitian ini bermanfaat untuk:

  1. Menerapkan integrasi keilmuan yang dapat dirasakan manfaatnya (matematika dan ilmu falak), khususnya dalam bidang rukyah al-hilāl bi al-ilmi.
  2. Mengenalkan tentang cara mengetahui awal bulan hijriah dengan metode hisab urfi kepada para akademisi universitas (khususnya bidang Sains dan Teknologi).
  3. Menumbuhkan minat para akademisi sains dan teknologi UIN agar Ikut berperan serta kepada masyarakat muslim Indonesia secara luas, dalam upaya memberikan pencerdasan terkait penentuan penanggalan hijriyah.

Bagi umat muslim dan masyarakat luas, penelitian ini bermanfaat:

  1. Sebagai sarana pembelajaran yang efektif dalam memberikan pemahaman utuh tentang konsep hisab urfi dalam menentukan awal bulan hijriah.
  2. Untuk meminimalisasi perdebatan dan kebingungan yang berpotensi membawa perpecahan diantara umat Islam, dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang terkait.

Pembaca yang dirahmati Allah, Insyaallah tulisan ini akan berlanjut pada tulisan selanjutnya. Sampai jumpa…

Oh Rembulan

Screenshot - 041213 - 20:58:27

Pembaca ;>alfainvers yang dirahmati allah, seperti yang telah penulis janjikan. inilah kelanjutan dari riset yang penulis ikut sertakan pada lomba beberapa waktu yang lalu. Semoga bermanfaat.

Pembaca, bulan adalah salah satu objek langit yang populer bagi kita, bulan menjadi objek langit yang menarik dalam pengkajian sains. Bulan pula, menjadi salah satu objek penentuan waktu (sistem penanggalan) di bumi kita ini, yang didasarkan pada periode penampakan wujud bulan (fase-fase bulan) yang diamati dari bumi. Karena bulan merupakan objek langit, maka sejatinya ilmu dasar dalam pengkajian ini adalah astronomi, dan fokusnya adalah mekanika benda langit maka disanalah letak dibutuhkannya penggunaan ilmu matematika.

Tahukah pembaca sekalian?, periode penampakan wujud bulan dipakai dalam sistem penanggalan oleh beberapa komunitas masyarakat dunia, dari beberapa komunitas tersebut yang paling dominan dan signifikan dalam pemakaian dan perkembangannya adalah umat Islam. Sistem penanggalan atau yang lebih dikenal dengan kalender, merupakan salah satu bagian dari waktu yang tak bisa dipisahkan dalam aktifitas kehidupan. Sistem penanggalan menjadi sangat urgent bagi kehidupan sosial kemasyarakatan, baik dalam kebutuhan administrasi sipil, bahkan dalam kebutuhan terkait ibadah ke-Agamaan. Secara kebutuhan, kita (sebagai masyarakat Indonesia) sudah tak asing lagi dengan dua sistem penanggalan utama, yaitu sistem penanggalan qomariyah yang dikenal dengan kalender hijriah dan sistem penanggalan syamsiyah yang dikenal dengan kalender masehi.

Pembaca yang bijak hatinya, sistem penanggalan qomariyah menjadi bahasan yang sangat menarik karena didasari oleh firman Allah swt. dalam Q.S. 10:5 mengenai penetapan objek langit (bulan dan matahari) sebagai patokan penentuan waktu oleh Allah swt., Q.S. 9:36 terkait penegasan bahwa banyaknya bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, Q.S. 55:5 juga tentang informasi dari Allah swt., bahwa objek langit (bulan dan matahari) beredar menurut perhitungan tertentu), dan berbagai ayat Al Qur’an lainnya yang memerintahakan pelaksanaan ibadah tertentu berdasarkan kondisi pergerakan bulan dan matahari.

Pembaca yang senantiasa cermat, penentuan awal suatu bulan dalam penanggalan hijriah dapat diperoleh dengan dua pendekatan yaitu dengan cara rukyah (observasi) dan hisab (perhitungan). Yang pada pelaksanaannya seringkali terjadi perbedaan hasil keputusan dari kedua metode tersebut. Namun, yang menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut secara sains (matematika dan astronomi) tentunya adalah penentuan awal bulan hijriyah dengan metode hisab (perhitungan), yang juga bisa dibahasakan dengan rukyah al-hil ̄al bi al-ilmi. Yang berawal dari suatu model hisab yang dimulai ketika penetapan sistem penanggalan hijriah oleh Amirul Mu’minin Umar ibn Al Khathab, yaitu model hisab urfi. Yang berdasarkan waktu rata-rata periode sinodis bulan, dimana total sinodis tiap periodenya dianggap konstan bergantian 30 dan 29 hari.

Ketahuilah pembaca, hisab urfi ini sebagaimana dalam perkembangannya adalah metode hisab yang paling dasar dan paling strategis digunakan untuk keperluan pendokumentasian administrasi sipil sehari-hari, bukan sebagai acuan utama penentuan ibadah, namun bila untuk hal ibadah metode ini hanyalah sebagai referensi awal (perkiraan) semata. Adapun karya-karya hisab urfi diantaraya adalah, Sistem Penanggalan Syamsiah/Masehi karya Moedji Raharto,The Muslim and Christian Calenders karya G.S.P Freeman Grenville, Takwim Istilah Hijriah-Masehi 1401-1500 H 1980-2077 M, karya M. Khair, dan Almanak Masehi Hijri 1364 H / 1945 M-1429 H / 2010 M, karya K.H. Salamun Ibrahim.

Sehingga pembaca, dengan latar belakang matematika yang mengacu kepada ilmu astronomi (khususnya bahasan tentang waktu menurut astronomi), maka pembahasan ini akan diuraikan dengan sudut pandang matematis yang terfokus pada bahasan konversi waktu. Serta akan diuraikan dengan algoritma yang runut, sistematis, dan logis, sehingga kepemahaman akan proses hisab urfi dapat benar-benar dipahami dengan baik. Sebab, pada sumber-sumber sekunder terkait hisab urfi yang peneliti pelajari, kurang begitu rinci dalam menjelaskan tahap demi tahap alur diperolehnya kesatuan model hisab urfi yang dipakai. Oleh karena itu, penulis melakukan studi literatur yang simultan antara dua kajian pokok yang peneliti jadikan sumber primer, yaitu antara spherical astronomy dan hisab urfi itu sendiri. Sehingga, dengan hal tersebut mengajukan judul untuk penelitian ini adalah, “Model Konversi Penanggalan Masehi-Hijriah“.

Pembaca yang senantiasa dirahmati Allah, semoga pendahuluan ini dapat membangkitkan semangat keilmuan yang mengendap dalam hati-hati kita, sampai tahap ini segala kritik dan saran, silahkan pembaca sampaikan. sampai jumpa pada lanjutan tulisan berikutnya…

[mari] RISET

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Pembaca yang budiman, maaf sudah lama tak bersua. Insyaallah, mulai saat ini ;>alfainvers akan produktif kembali.

mohon do’a dari pembaca sekalian, saat ini penulis kembali melakukan riset, baik dalam keperluan studi (skripsi) dan beberapa hal lainnya. Insyaallah baik penelitian ini dan penelitian sebelumnnya akan penulis muat dalam blog ini.

sampai jumpa…

Mengapa Huruf X?

 Sumber: TerryMoore_2012-low-id.mp4 pada ted.com

Pertanyaannya adalah:

mengapa huruf “X” mewakili sesuatu yang tidak di ketahui?

Sekitar enam tahun yang lalu presentator (Terry Moore) mempelajari bahasa Arab, sekedar informasi bahasa Arab adalah bahasa yang sangat logis, dalam menulis kata atau frase atau kalimat dalam bahasa Arab, seperti merakit sebuah persamaan, karena setiap bagiannya sangat tepat dan membawa banyak informasi. Itulah salah satu alasan banyak dari kita yang sampai pada kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan, matematika, dan teknik di Barat saat ini benar-benar telah digunakan pada abad-abad pertama Masehi oleh bangsa Persia, Arab, dan Turki. Termasuk sistem kecil dalam bahasa Arab yang disebut al-Jabra. Dan al-jabra secara kasar diterjemahkan menjadi “Sistem untuk mencocokkan bagian yang berbeda”. Al-jabra akhirnya sampai ke Inggris sebagai aljabar. Salah satu dari banyak hal lainnya, naskah bahasa Arab yang berisi kebijaksanaan matematika akhirnya sampai ke Eropa—yaitu Spanyol—pada abad ke-11 dan 12. Dan ketika naskah itu sampai, ada ketertarikan yang luar-biasa untuk menerjemahkan bahasa Arab ini ke dalam bahasa Eropa. Tapi ada masalah. Salah satunya ada beberapa suara dalam bahasa Arab yang sulit untuk di lafalkan oleh orang Eropa tanpa banyak berlatih. Percayalah untuk hal yang satu ini. Dan juga lafal itu cenderung tidak dapat diwakili oleh huruf dalam bahasa Eropa. Inilah salah satunya, ini adalah huruf “Sha”, yang berbunyi seperti yang kita anggap sebagai SH—”sh.”—. Ini juga huruf pertama dari kata “shaian” yang berarti “sesuatu” seperti dalam bahasa Inggris “something”–hal yang tak terdefinisi, yang tak diketahui. Dalam bahasa Arab kita dapat membuatnya terdefinisi dengan menambahkan imbuan “al.” inilah al-shaian, ini adalah kata yang muncul di masa pertama matematika mulai dikenal, seperti bukti penurunan pada abad ke-10 ini…

Masalah bagi para ilmuan Spanyol abad Pertengahan yang bertugas menerjemahlan bahan ini adalah huruf “Sheen” dan kata “shaian” tidak dapat diubah dalam bahasa Spanyol karena bahasa Spanyol tak memiliki SH itu,. Yang terdengar “sh.” Jadi dengan konvensi, mereka menciptakan aturan dimana mereka meminjam bunyi CK, bunyi “ck”, dari Bahasa Yunani klasik dalam bentuk huruf Chi. Kemudian, ketika bahan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa yang umum, katakanlah bahasa Latin, mereka hanya menggantikan Chi Yunani dengan X Latin. Dan setelah hal itu terjadi, setelah bahan ini diubah ke Bahasa Latin, bahan ini membentuk dasar buku teks matematika selama hampir 600 tahun. Jadi, sekarang kita punya jawaban untuk pertanyaan ini:

Mengapa X menjadi yang tidak diketahui?

X menjadi yang tidak diketahui karena anda tidak bisa mengatakan “sh” dalam Bahasa Spanyol.

Dan saya pikir itu layak untuk diinformasikan.